Home > De El El > Susahnya Konsistensi

Susahnya Konsistensi

Bukan persoalan mencintai apa yang dilakukan, atau banyaknya jenis kegiatan yang dijalani, tapi konsisensi melakukan sesuatu sebenarnya lebih kepada inisiatif dari dalam pribadi untuk disiplin mengerjakan apa yang telah ditentukan sendiri. Susahnya kalau datang dari diri sendiri, kita (kita?? pakai aku aja ah…), aku cenderung “lebih mampu” menawar-nawar diandingkan bila berhadapan dengan pihak lain atau yang tidak hidup tapi berjalan, WAKTU!!
Jadi ingat pernah diskusi tentang kenapa aku belum kepikiran untuk menikah. Tapi ah, jangan dibahas jawaban pertanyaan itu ya :D
Pernah suatu kali berdiskusi kepada teman soal nikah-menikah ini tapi yang ingin aku ceritakan sebenarnya kembali ke permasalahan utama, konsistensi itu sendiri. Dan ini lebih ke permasalahan pekerjaan, making money thing. Disiplin memang seperti jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, disiplin sangat baik untuk membentuk kualitas mental seseorang dalam mencapai target awal atau akhir yang sedang dikerjakan saat ini. Namun di sisi lain, apabila kedisiplinan menjadi harga mati, maka manusia akan menjadi robot yang diatur oleh rutinitas yang itu-itu saja. Membosankan memang. Sebaliknya, spontanitas menjadikan manusia menjadi lebih manusia yang hidup “tanpa batas” melakukan apa pun yang ada di pikiran karena hidup memang cuma sekali. Tapi spontanitas biasanya berjangka waktu pendek.
Dan apabila hal ini dihubungkan dengan konsistensi, pilihan konsisten disiplin (fokus pada sesuatu yang bersifat jangka panjang) ataupun konsisten spontan tentu menjadi pro-kontra bagi siapa pun. Kalau kita tarik benang merahnya, rasio seimbang antara disiplin dan spontanitas memang dibutuhkan tapi apakah kita mampu melakukan rasio itu dengan konsisten juga?

Misalnya begini, kadang waktu untuk pekerjaan telah ditetapkan 8 jam sehari, 5 hari seminggu, dan itulah waktunya untuk disiplin pada rutinitas yang dilakukan. Dan dalam sisa 16 jam per 5 hari itu, disiplin terhadap keluarga ataupun urusan rumah. Sedangkan waktu 2 hari, Sabtu dan Minggu, adalah waktunya spontanitas pribadi, bersama keluarga, ataupun bersama teman melakukan apapun yang ingin dilakukan. Tapi seringkali tawar-menawar konsistensi ini diabaikan dari dalam diri sendiri. Waktunya untuk rutinitas malah dipakai untuk melakukan hal-hal yang bersifat spontanitas sedangkan waktunya di luar rutinitas malah sering digunakan untuk lembur rutinitas yang tidak tanggung-tanggung.

Faktor luar tentu menjadi peran penting dalam konsistensi ini, dan dari diskusiku dengan teman itulah coba menarik benang putihnya, yang menghubungkan semuanya.
Begini, karyawan bekerja lebih serius karena dituntut disiplin oleh bos atau atasan.
Bos dituntut disiplin oleh pemilik perusahaan.
Dan pemilik perusahaan dituntut disiplin oleh sang pemilik rumah (baca: istri)
Istri dituntut lebih disiplin oleh anak (kesehatan, sekolah, dll)
Anak dituntut disiplin oleh gurunya
Guru bekerja sebagai karyawan dan lingkaran kembali lagi ke atas.

Teman pun berani ambil keputusan bahwa orang yang sudah menikah biasanya lebih terjaga konsistensinya dibandingkan yang belum menikah. Apalagi ditambah dengan memulai usaha sendiri yang meminimalisasi tekanan dari luar karena hasilnya hampir pasti kebanyakan untuk hal-hal yang sifatnya lebih spontan. Tanggung jawabnya kurang.

Ah, dasar tulisan ga guna nih haha :) )

Bookmark and Share
Categories: De El El Tags:
banner1
  1. June 2nd, 2010 at 09:05 | #1

    ha ha ha… makanya rik, mikirnya enaknya ajah!!!
    gak usah mikir susahnya, jadilah kow boejang lapoek macam si mbah ntuh *mudah2an si mbah gak denger… becanda mbah*

  2. June 2nd, 2010 at 11:58 | #2

    wuakakak.. memang gara2 kelamaan bergaul ama si mbah ini jadi aja awak ketularan dia. mulai kepikir ikut2 dia korupsi umur aku hehe..
    wah, makin gendut nih yee, udah ada yg urusin kyanya. link dolo ah

  1. No trackbacks yet.

Switch to our mobile site